How To Write A Great Essay About Anything

Thought Catalog

Excerpted from How to Write a Great Essay (Bookhacker, 2013).

There is an assumption in the world that an essay is something literary you write for school about a topic that no one but your teacher will ever care about. At first glance, the dictionary does nothing to allay that sense. The very first definition is of “a short literary composition on a particular theme or subject, usually in prose and generally analytic, speculative, or interpretative.”

The reality, if any of you have read a blog recently, is that essays can be much more than that. They can be anything really. And here, the dictionary comes to our aid. The second definition of an essay is “anything resembling such a composition.” So really, essays are written compositions about anything.

Unfortunately, they can also be annoying, tedious and obnoxious. Whether it’s a high school essay, a college research paper or even…

Lihat pos aslinya 1.450 kata lagi

Iklan
How To Write A Great Essay About Anything

Ritual Pekarya; Raditya Dika, Agus Noor, Cak Nun, dan Jenius Dunia Lainnya

Salah besar bila penulis, pelukis, komposer, dan pekerja kreatif lainnya adalah orang yang santai dan seenaknya terhadap waktu. Kreatif memang liar. Tapi untuk menghasilkan karya kreatif, para pekarya ini sangat disiplin. Bahkan, bisa lebih disiplin dari tentara sekalipun.

Tentara didisiplinkan aturan. Entah terpaksa maupun suka rela. Eksekutif muda nan sibuk disiplin karena harus bertemu dengan banyak orang; yang memiliki kesibukan masing-masing.

Pekarya? Mereka menetapkan target karya sendiri, menciptakan aturan sendiri, dan menumbuhkan ritual sendiri. Tidak ada inspektur di belakang mereka yang siap menghukum.

Di balik kesan kreatifnya yang santai dan urakan, Agus Noor dan Raditya Dika punya kedisiplinan tingkat tinggi. Sejak belum terkenal, RD sangat disiplin. Setiap hari menulis dari pukul 11 malam hingga 1 dini hari. Apapun yang terjadi. Agus Noor yang jauh lebih senior, juga demikian. Dia menciptakan ritual menulis sejak dia hanya punya mesin ketik. Mengunci diri di kamar pukul 8 – 10 malam tanpa ada yang boleh mengganggu. Termasuk Tuhan.

Dari wawancaranya di majalah Hai 2013, saya tahu bagaimana keseharian RD. Mengintip dapur rahasia kegemilangannya. RD menulis 2 -3 jam per hari. Membaca 1 – 3 jam. Ngetwit kreatif 7x sehari. Melatih kemampuan stortell secara oral 3 jam setiap hari.

“Apapun hasilnya, sentah sinopsis, cerita 1 – 2 halaman, gue selalu nulis setiap tidur.”, tutur RD membongkar ritual berkaryanya. “Bahkan, akhir-akhir ini gue nulis sampai subuh.” Luar biasa bukan daya tahan menulisnya? Tapi sepertinya belum ada apa-apa dibanding Cak Nun. Wartawan yang kini menjadi budayawan.

Cak Nun terbiasa menulis dengan gangguan. Obrolan dan tawa kawan-kawannya, keluhan warga sekitarnya, atau orang yang datang jauh-jauh meminta bantuannya. Sejak dulu, Cak Nun sudah menjadi tumpuan bagi orang-orang sekitarnya. Beliau pernah mempunyai bengkel, peternakan, untuk membantu hajat hidup orang banyak. Luar biasa sibuk tapi tetap tak kehilangan akarnya: menulis. Gimana bagi waktunya tuh?

Mungkin untuk meniru Cak Nun, kita tak hanya peduli soal bagi waktu. Tapi juga bagi energi. Kita mesti memiliki stamina tinggi. Cak Nun pernah menulis hingga larut malam. Lalu datang kawan-kawan senimannya mengajak bermain kartu. Beliau menemaninya hingga pagi menjelang. Saat kawan-kawannya tepar, tidur karena mata tak kuat, apa yang dilakukan Cak Nun? Istirahat? Tidak. Dia lanjut nulis. Hajar terus!

Terus kapan tidurnya? Berikut pengakuan Cak Nun. “Saya biasa nulis sampai pagi. Tidur sebentar saat dhuha datang. Pukul setengah delapan, saya sudah bersiap-siap bekerja lagi.”

Wow! Pastinya Cak Nun juga mengolah raganya. Pasti ga kuat melek kalau gaya hidupnya hanya duduk di depan mesin ketik.

Kenapa sih saya getol pengen tahu gimana daily life dan ritual para pekarya? Karena menurut saya, kunci keberhasilan pekarya tu bukan pemahaman soal teknik, intuisi, atau bahkan keberuntungan. Ketiganya bisa dibentuk bila kita memiliki sistem hidup yang mendukung kita produktif.

ibaratnya, kita mesti menciptakan ritual sebagai mobil. Kendaraan yang memungkinkan kita berkarya lebih effortlessly. Yap. Ritual ini memang berat untuk diciptakan. Tapi setelah tercipta, kita bakal jadi keren secara otomatis. Mana yang lebih capek? Kupu-kupu yang terus menerus terbang secara random, atau kupu yang terbang dalam mobil? Kupu-kupu kedua jelas ga capek dan lebih cepat sampai tujuan. Meski di awal, dia harus invest banyak untuk menemukan mobil. Untuk menciptakan ritual.

So, masih punya pikiran,”Ah, gue kan insan kreatif. Ga banget deh ama aturan. Punya jadwal keseharian tu hanya untuk orang kaku!”

Well, coba baca tiga link berikut ini. Soal daily life and routines para pekarya kelas dunia.

http://sploid.gizmodo.com/youll-be-surprised-at-the-worlds-greatest-geniuses-d-1556947182

http://www.businessinsider.co.id/daily-routines-of-geniuses-2014-3/#.VKpIl2NHbM2

http://www.theguardian.com/science/2013/oct/05/daily-rituals-creative-minds-mason-currey

Ada banyak pencerahan yang pasti kamu dapet. Termasuk yang berkesan bagi saya. Yang dulu tipikal orang yang ga punya habit sama sekali. Bangun pagi jam berapa aja pasti berubah-ubah tiap hari. Ga normal banget. Ga kayak orang lain yang jelas kebiasannya gimana. Terutama terkait waktu. Saya biasa baca. Tapi baca jam berapa tu ga pernah jelas.

Tapi setelah baca salah satu quote dan menganalisa kehidupan para pekarya jenius, saya termotivasi untuk jadi orang yang lebih teratur. Karena emang bener, dengan teratur, kita bisa lebih kreatif.

ini quote nya. (kurang lebih)

Teraturlah, disiplinlah, (jadilah orang ‘otak kiri’), dalam keseharianmu. Supaya kau bisa liar dalam karyamu.

Ritual Pekarya; Raditya Dika, Agus Noor, Cak Nun, dan Jenius Dunia Lainnya

Tahun Baru (banyak) Karya Baru! #1Day1Dream

Hei, saya @Pengkarya

Ini blog ke sekian saya. Dikhususkan jadi semacam etalase karya saya. Tidak hanya untuk menunjukkan karya yang sudah jadi, tapi juga catatan seputar Pekarya. Baik proses kreatif dalam berkarya maupun siapa saja pekarya yang jadi model.

Sudah dah dari dulu saya ingin menjadi orang yang banyak karya. Tapi, keinginan hanyalah keinginan bila tidak ada gerakan. Karena itu, saya tertarik untuk bergabung dalam gerakan tagar #1Day1Dream oleh kawan-kawan Kancut Keblenger.

Setiap karya diawali mimpi. Maka, mereka yang ingin jadi Pekarya, pastilah menjadi Pemimpi terlebih dulu. Dalam gerakan #1Day1Dream inilah sosok saya sebagai pemimpi dimatangkan. Saya akan mencatat mimpi-mimpi saya untuk kemudian dinyatakan sebagai karya. Lalu, kira-kira apa saja yang menjadi target karya saya tahun ini?

Mari kita tengok dinamika karya saya sebelum-sebelumnya.

2012

Dua cerpen dimuat dalam dua antologi cerpen yang berbeda. Satu diterbitkan penerbit indie, satu diterbitkan penerbit major.

Satu cerpen dimuat di majalah nasional.

Dikit amat? Emang. Tahun itu ‘cuma’ jadi semacam titik balik. Membuat sadar ternyata saya lumayan bisa nulis. Waktu itu saya cuma mengirimkan tiga cerpen. Dan, ketiganya lolos.

Meski ternyata ada anugerah di cerpen, tahun ini saya belum langsung fokus. Masih nyari-nyari. dan dua tahun berikutnya saya baru menyadari pentingnya fokus.

2013

Saya menjadi penyiar. Mengasyikkan memang. Menjadi penyiar bagi saya bukan hanya pekerjaan. Tapi momen mengubah hidup. Ketrampilan, ketenaran, dan tempaan mental sebagai penyiar sebenarnya juga menyumbang sangat banyak dalam kemampuan saya berkarya di tahun berikutnya. Tapi entah kenapa gatal rasanya kalau ga nulis atau make something. Jadi, di awal 2014, saya resign.

2014

Bergabung di perusahaan yang memungkinkan saya berkarya, sekaligus bekerja. Belajar, tapi dibayar. Saya pernah menjadi content writer untuk beberapa kebutuhan. Baik konten situs maupun copywting iklan. Setelah itu saya diplot menjadi video maker 3 situs. Berkuliah.com, bisnishack.com, dan nilni.com dan detik ini menjadi pemred Pizna.com

Selain itu, bersama kawan saya, @Tidar07 kami juga membuat radio soundcloud bernama #TiBoFM. Acara komedi ini sempat menjadi hits di kota saya. Apalagi didukung oleh kawan-kawan dari komunitas stand up comedy Magelang

Jelang akhir tahun kemarin komunitas ini juga menghelat “Audisi Kompas a la Magelang”. Beberapa konsep jusru sangat orisinal. Hanya ada di komunitas ini. Tidak heran, komunitas-komunitas stand up daerah lain pun angkat topi sebagaimana kami juga menghormati mereka. Selama audisi 3 bulan itu, saya rutin menjadi juri dan menulis di blog stand up Magelang.

2015

Awal tahun, saya berencana Lanjutkan membaca “Tahun Baru (banyak) Karya Baru! #1Day1Dream”

Tahun Baru (banyak) Karya Baru! #1Day1Dream